You are not logged in
Log in
Sign up

La Ummasa (1358–1424)

 
chenk benk
Jan 2 2009 00:51

Sebagai ana’ pattola (pangeran), La Ummasadigadang oleh Ayahandanya Mata SilompoE-Mangkau’/Arumpone (Raja Bone) untuk kelak menggantikannya sebagai Mangkau’ di kerajaan yang baru saja ia dirikan. Tidak mengherankan jika kemudian Mata SilompoE menggembleng puteranya untuk belajar ke Matowa, Puang Cilaong di Bukaka (Puang Cilaong ini merupakan teman seperjalanan Mata SilompoE yang memiliki pengetahuan luas tentang hubungan manusia dengan dewata seuwwae [Tuhan, dalam agama kuno masyarakat Bone]. Cilaong dalam bahasa Bugis sekarang mengalami pergeseran bunyi menjadi “silaong” yang berarti teman. Selain dibimbing langsung oleh Ayahandanya tentang sistem pemerintahan sebagai bekal untuk memimpin kerajaan Bone, La Ummasa juga dibekali kemampuan olah kanuragan mumpuni yang diperoleh dari Sang Matowa, Puang Cilaong.

 

Sebelum diangkat menjadi raja, La Ummasa pernah berseteru dengan La Pattikkeng -Arung Palakka yang kelak menjadi adik iparnya. Keduanya duel selama berjam-jam, namun karena tidak ada yang mampu saling mencederai, maka keduanya berhenti untuk istirahat. Menyadari duel ini tidak mendatangkan manfaat, keduanya pun sepakat untuk mengakhiri perseteruan tersebut dengan damai. Bahkan kemudian, keduanya mempererat persaudaraan mereka tatkala adik perempuan La Ummasa, We’ Pattanra Wanuwadiperisteri La Pattikkeng -Arung Palakka.

::Masa Pemerintahan::

La Ummasa naik tahta menggantikan kedudukan Ayahandanya, ManurungE ri Matajang, selaku Mangkau’ Kerajaan Bone di bawah sumpah di depan seluruh rakyat Bone. Selama masa pemerintahannya sebagai Mangkau’, La Ummasa hanya dinaungi kaliyao, semacam tameng perang yang terbuat dari papan, jika bepergian untuk melindungi diri dari terik matahari sekaligus melindungi diri dari senjata tajam musuh. Sebab payung beserta salenrang yang sebelumnya senantiasa mendampingi Mangkau’E dibawa serta oleh Manurung-E saat pamit (mallajang) di depan masyarakat Bone.

La Ummasa merupakan orang pertama di Kerajaan Bone yang memperkenalkan pengolahan biji besi kepada masyarakat Bone. Kemampuannya mengolah biji-biji besi menjadi peralatan-peralatan lainnya lah akhirnya dianugerahi gelar sebagai Petta Panre BessiE (Tuan Pandai Besi). Kemampuan ini benar-benar dimanfaatkannya untuk membantu rakyat Bone dengan membuat rakkala (bajak) untuk membajak sawah, golok dan parang untuk berkebun, dan kandao (sabit). Disinyalir pada masa pemerintahan La Ummasa lah rakyat Bone mulai membuka lahan persawahan secara besar-besaran.

Selama menjalankan pemerintahan, La Ummasa dikenal sebagai raja yang mempunyai kelebihan berupa daya ingat tajam, penuh perhatian, jujur, adil dan bijaksana sehingga beliau sangat dicintai oleh rakyatnya. Pada masa pemerintahannya pula lah Kerajaan Bone mulai melakukan ekspansi perluasan wilayah kerajaan dengan menaklukkan wilayah-wilayah sekitarnya, seperti Anro Biring, Majang, Biru, Maloi dan Cellu.

Hampir tidak ada perlawanan berarti dari wilayah-wilayah taklukannya. Hal ini disebabkan karena bala tentara La Ummasa memiliki perlengkapan perang lebih baik, berupa pedang, tombak, keris dan badik serta melengkapi diri dengan tameng. Selain itu, semakin kuatnya doktrin To Manurung yang melekat pada diri Sang Raja menyebabkannya sangat disegani. Lebih jauh lagi, tenyata Manurung-E ri Matajang telah merintisnya melalui perkawinan politik. Ini dibuktikan dengan perkawinan putrinya We Pattanra Wanuwa dengan La Pattikkeng, Arung Palakka. Begitu juga We Tenri Salogan dikawinkan dengan La Ranringmusu -Arung Otting dan We Arantiega [We Arattiga?] dikawinkan dengan La Patongarang -Arung Tanete. Hal ini semakin memuluskan jalan La Ummasa untuk mempersatukan wilayah-wilayah yang masih dikuasai iparnya ke dalam Kerajaan Bone yang dipimpinnya.

::Akhir Pemerintahan::

La Ummasa kawin dengan anak Matowa Ciung. Dari perkawinannya ini lahirlah To Suwalle dan To Sulewakka, keduanya perempuan. Namun karena ibunya dianggap sebagai perempuan biasa, maka kedua putri raja ini tidak berhak atas warisan Kerajaan Bone. Oleh karena itulah, ketika La Ummasa mengetahui saudara perempuannya, We Pattanra Wanuwatengah hamil tua dan segera akan melahirkan maka La Ummasa mengutus kedua anak perempuannya ke Palakka. Kepada kedua anak perempuannya, La Ummasa berpesan,

“Kalau Puammu (We Pattara Wanua) telah melahirkan, maka ambillah anak itu (jika ia laki-laki) dan bawa secepatnya ke mari. Nanti di sini baru dipotong ari-arinya dan ditanam tembuninya”.

Tidak berapa lama setelah To Suwalle dan To Sulewakka berada di rumah We Pattanra Wanuwa, maka lahirlah seorang bayi laki-laki berambut hitam lebat tegak lurus ke atas (::Bugis:: karang/korang) sehingga digelari Karampeluwa. To Suwalle dan To Sulewakka segera menjalankan titah Ayahandanya dan langsung membawa Karampeluwa ke Istana MangkauE di Bone sebelum La Pattikkeng-Arung Palakka tiba di rumahnya, sehingga ketika mengetahui buah cintanya dilarikan ke Bone sesaat setelah dilahirkan sangat menyakiti hatinya. Walau demikian, dia tetap berpikir jernih menenangkan hatinya, mereka-reka maksud dan tujuan saudara iparnya, Arumpone La Ummasa.

Selama dalam perjalanan ke Watampone, To Suwalle dan To Sulewakka tidak pernah menengok ke belakang. Bahkan kuda yang ditunggangi dipacunya sekuat yang dia bisa. Sampai di istana Arumpone, We Samateppa-saudara perempuan Baginda Mangkau’E diberi mandat oleh Arumpone untuk memotong ari-ari dan mencuci ponakannya yang baru berumur beberapa jam itu. Beliau juga lah yang perintahkan untuk memelihara beliau hingga besar kelak.

Mangkau’E La Ummasa Arumpone mengutus surona (dutanya) ke seluruh penjuru wilayah kerajaan menemui dewan adat (hadat pituE) untukmengundang segenap rakyatnya datang ke istana raja di Bone. Beberapa orang diantaranya diperintahkan untuk membangun baruga(bangunan sederhana berupa panggung sekadar untuk menaungi Baginda beserta anggota hadat pituE dari terik matahari atau hujan). Keesokannya berkumpullah para anggota dewan adat beserta rakyatnya yang berasal dari pitu wanuwa (tujuh unit utama kerajaan) beserta rakyatnya yang berasal dari daerah-daerah taklukan, masing-masing lengkap dengan senjata perangnya. Bendera worongporong-E (bendera kerajaan berwarna merah dan putih) dikibarkan, beberapa pabbaju bodomenyambut para tamu. Setelah para tamu berrkumpul, maka Arumpone La Ummasa berdiri dan maju menghadap ke para undangan seraya berseru,

“Saya undang kalian untuk mendengarkan bahwa saya telah mempunyai anak laki-laki bernama La Saliyu. Mulai hari ini, saya serahkan kedudukan saya sebagai Mangkau-Arumpone. Dan kepadanya pula saya serahkan untuk melanjutkan perjanjian yang pernah disepakati Puatta ri Matajang dengan orang Bone”.

Atas keputusan raja yang mendadak ini, seluruh rakyat “mengiyakan” dan kemudian mereka mangngaru (mengucapkan sumpah setia). Pada saat yang sama, dilantiklahLa Saliyu Karampeluwamenjadi Arumpone. Acara ini pelantikan ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam yang dirangkaikan dengan nariule sulolona (selamatan atas lahirnya) dan ditanam tembuninya. Setelah itu, Mangkau’E La Saliyu Karampelua’ Arumpone dinaikkan ke Langkana-E(istana). Untuk menjalankan roda pemerintahan, La Ummasa Petta Panre Bessi-E sebelumnya menunjuk To Sulawekka untuk mengurus hubungan luar, semacam Menteri Luar Negeri, dalam hal ini dikenal dengan istilah Makkedang Tana. Sementara To Suwalle dipercaya memangkunya jabatan sebagai juru bicara yang bertugas memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebijakan-kebijakan kerajaan.

La Ummasa yang telah meletakkan jabatannya sebagai Mangkau’ sangat mencintai dan menyayangi La Saliyu melebihi anak kandungnya sendiri. Setiap hendak bepergian, beliau selalu mewanti-wanti We Samateppa agar La Saliyu dipelihara dan dibimbing dengan baik.

Suatu ketika, La Ummasa sakit keras yang menyebabkan beliau meninggal dan dikuburkan di Bone, tepatnya di tengah-tengah kota Watampone sekarang. Dia diberi gelar Petta Mulaiye Panreng (orang mula-mula dikuburkan).

::Silsilah::

La Ummasa kawin dengan anak Matowa Ciung, namun karena orangtuanya tidak dianggap tidak mempunya status sosial sebagai bangsawan maka kedua putrinya yang masing-masing bernama To Suwalle dan To Sulewakka tidak berhak atas Kerajaan Bone. Tidak ada ana’ pattola (pangeran, putera mahkota) yang bisa mewarisi kepemimpinannya sebagai Mangkau’ di Kerajaan Bone.

::CATATAN::

La Ummasa Mulaiye Panreng adalah orang (raja) pertama yang dikuburkan, juga digelari Petta Panre BessiE. Kuburan La Ummasa terdapat di tengah-tengah kota Watampone, namun kondisinya sangat memprihatinkan. Posisinya hanya sekian meter dari rumah penduduk dan terkesan kuburan biasa.

We Samateppa tidak disebutkan sebagai anak keturunan Manurung-E ri Matajang, namun dalam lontara’  dengan tegas disebut sebagai saudara perempuan La Ummasa yang mengurusi La Saliyu Karampelua ketika masih bayi hingga dewasa. Begitupun laporan penelitian dari tim Royal Ark tidak memasukkannya sebagai keturunan Manurung-E. Disinyalir kemudian, We Samateppa merupakan nama alias We Tenri Salogan yang kawin dengan La Ranringmusu -Arung Otting atau We Arantiega yang kawin dengan La Patongarang -Arung Tanete.

Contact chenk benk
Print this page
 
Loading...
Loading...